XtGem Forum catalog

APIEKTOP

Kumpulan Ilmu Pengetahuan Dan Hiburan

MENU-ARTIKEL

A. NU & KEMADZHABANNYA Keterbelakangan baik secara mental maupun ekonomi yang di alami bangsa Indonesia, akibat penjajahan maupun akibat kungkungan tradisi telah menggugah kesadaran kaum terpelajar untuk memperjuangkan martabat bangsa ini melalui jalan Pendidikan dan Organisasi, Gerakan yang muncul pada tahun 1928 tersebut dikenal dengan Kebangkitan Nasional semangat kebangkitan memang terus menyebar ke mana-mana, setelah rakyat pribumi sadar terhadap penderitaan dan ketertinggalannya dengan bangsa lain. Sebagai jawabannya maka munculah organisasi pendidikan dan pembebasan. Kalangan pesantren yang selama ini gigih melawan Kolonialisme, merespon kebangkitan nasional tersebut dengan membentuk organisasi pergerakan seperti Nahdhatul Wathan (Kebangkitan Tanah Air) pada tahun 1916 kemudian pada tahun 1918 didirikan Taswirul Afkar atau dikenal juga dengan Nahdhatul Fikr (Kebangkitan Pemikiran), sebagai wahana pendidikan social politik kaum dan keagamaan kaum santri. Dari situ kemudian didirikan Nahdhatut Tujar (Pergerakan Kaum Saudagar), serikat itu dujadikan basis untuk memperbaiki perekonomian rakyat, dengan adanya Nahdhatut Tujar itu maka Taswirul Afkar selain tampil sebagai kelompok studi juga menjadi lembaga pendidikan yang berkembang sangat pesat dan memiliki di beberapa kota. Suatu waktu Raja Sa'ud hendak menerapkan asas tunggal yakni Madzhab Wahabi di Mekkah, serta hendak menghancurkan semua peninggalan sejarah Islam maupun Pra Islam yang selama ini banyak diziarahi karena dianggap Bid'ah. Gagasan Kaum Wahabi tersebut mendapat sambutan hangat dari kaum Moderenis di Indonesia, baik kalangan Muhammadiyah maupun PSII di bawah pimpinan HOS Tjokroaminoto. Sebaliknya kalangan Pesantren yang selama ini membela keberagaman menolak pembatasan bermadzhab dan penghancuran warisan peradaban tersebut. Dengan sikapnya yang berbeda itu kalangan pesantren dikeluarkan dari anggota Kongres Al-Islam di Yogyakarta pada tahun 1925, akibatnya kalangan pesantren juga tidak dilibatkan sebagai Delegasi dalam Mu'tamar 'Alam Islami (Kongres Islam Internasional) di Mekkah yang akan mengesahkan keputusan tersebut, sumber lain menyebutkan bahwa K.H Hasyim Asy'ari. K.H. Wahab Hasbullah dan sesepuh NU lainnya melakukan Walk Out. Didorong oleh minatnya yang gigih untuk menciptakan kebebasan bermadzhab serta peduli terhadap pelestarian warisan peradaban, maka kalangan pesantren terpaksa membuat delegasi sendiri yang dinamakan Komite Hejaz, yang diketuai oleh K.H Wahab Hasbullah. Atas desakan kalangan Pesantren yang terhimpun dalam Komite Hejaz, dan tantangan dari segala penjuru umat Islam di dunia maka Raja Su'ud mengurungkan niatnya. Hasilnya hingga saat ini di Mekkah bebas dilaksanakan ibadah sesuai dengan Madzhab mereka masing-masing. Itulah peran Internasiaonal kalangan Pesantren pertama, yang berhasil memperjuangkan kebebasan bermadzhab dan berhasil menyelamatkan peninggalan sejarah yang sangat berharga. Berangkan komite dan berbagai organisasi y ang bersifat Embrional dan Ad Hoc, maka setelah itu di rasa perlu untuk membentuk organisasi yang lebih mencakup dan lebih Sistimatis untuk mengantisipasi perkembangan zaman. Maka setelah berkoordinasi dengan berbagai Ulama, akhirnya muncul kesepakatan untuk membentuk Organisasi yang bernama Nahdhatul Ulama (Kebangkitan Ulama) pada 16 Rajab 1344 H (31 Januari 1926). Organisasi ini di pimpin oleh K.H Hasyim Asy'ari sebagai Ro'is Akbar. Untuk menegaskan prinsip dasar ini maka K.H Hasyim Asy'ari merumuskan kitab Qanun Asasi (Prinsip Dasar), kemudian juga merumuskan Kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jama'ah. Kedua Kitab tersebut kemudian diejawantahkan dalam Khitah NU, yang dijadikan sebagai dasar dan rujukan warga NU dalam berfikir dan bertindak dalam bidang social keagamaan dan politik. B. PAHAM KEAGAMAAN NU menganut paham Ahlussunnah Wal Jamaah sebuah pola fikir yang mengambil jalan tengah antara Ekstrim Aqli (Rasionalis) dengan kaum Naqli (Skripturalis). Karena itu sumber pemikiran NU tidak hanya Al-Qur'an, Sunnah, tetapi juga menggunakan kemampuan akal di tambah dengan Realitas Empiric, cara berfikir semacam itu di rujuk dari pemikiran Abu Hasan Al Sy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang Teologi, kemudian dalam bidang Fiqih mengikuti satu Madzhab Syafi'i meskipun mengikuti tiga Madzhab yang lain yaitu Hanafi, Maliki, Hanbali sebagaimana yang tergambar dalam lambang NU Berbintang Empat dibawah. Sementara dalam bidang Tasawuf mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi yang mengintegrasikan antara Tasawuf dengan Syari'at. Gagasan kembali ke Khittah pada tahun 1984 merupakan momentum penting untuk menafsirkan kembali ajaran Ahlussunnash Wal Jamaah, serta merumuskan kembali metode berfikir, baik dalam bidang fiqih maupun social. Serta merumuskan kembali hubungan NU dengan Negara. Gerakan tersebut berhasil kembali membangkitkan gairah pemikiran dan dinamika sosial dalam NU. Dalam menentukan basis pendukung atau warga NU ada beberapa istilah yang perlu diperjelas yaitu anggota, pendukung atau simpatisan dan Muslim Tradisionalis yang sepaham dengan NU. Jika istilah warga disamakan dengan istilah anggota, maka sampai hari ini tidak ada satu dokumen resmipun yang bisa di rujuk untuk itu, karena sampai hari ini tidak ada upaya serius di tubuh NU di angkat apapun untuk mengengola keanggotaannya. Dari segi pendukung atau Simpatisan ada dua cara yang melihatnya. Dari segi politiknya ini bisa dilihat dari jumlah perolehan suara Partai-Partai yang berbasis atau diasosiakan dengan NU. Dari segi paham keagamaan maka bisa dilihat dari jumlah orang yang mendukung dan mengikuti paham keagamaan NU, memperkitakan ada sekitar 51 juta dari Muslim Santri Indonesia dapat dikatakan pendukung atau mengikuti paham keaagamaan NU, sedangkan jumlah Muslim Santri yang di sebut sampai 80 juta atau lebih merupakan mereka yang sama paham keagamaannya dengan paham NU. Belum tentu mereka ini semuanya warga atau mau disebut berafiliasi dengan NU. Mayoritas pengikut NU mempunyai profesi beragam yang sebagian besar dari mereka adalah Rakyat Jelata, baik di Kota maupun di Desa. Mereka memiliki Kohesifitas yang tinggi karena secara sosial ekonomi memiliki problem yang sama, selain itu mereka juga sangat menjiwai ajaran Ahlussunnah Wal Jamaah. Pada umumnya mereka memiliki akatan cukup kuat dengan dunia Pesantren yang merupakan pesat pendidikan rakyat dan cagar budaya NU. Basis pendukung NU ini mengalami pergeseran, sejalan dengan pembangunan dan perkembangan Industrialisasi, maka kalau selama ini basis NU lebih kuat di sektor petani di pedesaan, maka saat di sektor buruh di perkotaan, juga cukup Dominan. Demikian juga dengan terbukanya sistim pendidikan, basis Intelektual dalam NU juga semakin meluas, sejalan dengan cepatnya mobilitas sosial yang terjadi selama ini. Belakangan ini NU sudah memiliki sejumlah doctor atau mater dalam berbagai bidang almu selai dari ilmu ke Islaman baik dari dalam maupun luar negri, termasuk Negara-Negara barat. Hanya saja para doctor dan Master ini belum dimanfaatkan secara maksimal oleh para pengurus NU hampir di setiap lapisan kepengurusan NU. C. KESIMPULAN 1. prinsip dasar NU merumuskan kitab Qanun Asasi, kemudian juga merumuskan Kitab I'tiqad Ahlussunnah Wal Jama'ah. 2. NU menganut paham Ahlussunnah Wal Jamaah yang mengambil jalan tengah antara Ekstrim Aqli (Rasionalis) dengan kaum Naqli (Skripturalis) 3. NU Mengikuti pemikiran Abu Hasan Al Sy'ari dan Abu Mansur Al-Maturidi dalam bidang Teologi 4. Bidang Fiqih NU mengikuti satu Madzhab Syafi'i meskipun mengikuti tiga Madzhab yang lain . 5. Sementara dalam bidang Tasawuf NU mengembangkan metode Al-Ghazali dan Junaid Al-Baghdadi.

fixwapwaplog
Display Pagerank