XtGem Forum catalog


APIEKTOP

Kumpulan Ilmu Pengetahuan Dan Hiburan

MENU-ARTIKEL

IMAM HANAFI (80H / 699M - 150H / 767M) Nama aslinya yaitu abu Hanifah An-Nukman Bin Tsabit Bin Zufi At-Tamimi, beliau masih mempunyai pertalian hubungan keluargaan dengan Imam Ali Bin Abi Thalib RA, Imam Ali bahkan pernah berdoa bagi Tsabit, yakni agar Allah memberkahi keturunannya, tak heran jika kemudian dari keturunan Tsabit ini muncul seorang ulama besar seperti Abu Hanifah 1. Dasar-Dasar Madzhab Imam Hanafi Imam hanafi banyak sekali mengemukakan masalah-masalah baru, bahkan beliau banyak menetapkan hukum-hukum yang belum jadi . Beliau pernah berkata sesungguhnya aku mengambil hukum dari Kitabullah apabila ada padanya, jika tidak ada, maka aku mengambil dari Sunnah Rasulallah dan Astar Sahabat jika tidak ada semua maka akau mengambil dari Qaul Sahabat. Sebagai dasar yang beliau jadikan dalam menetapkan suatu hukum adalah a. Al-kitab Al-kitab adalah sumber pokok ajaran Islam yang memberi sinar pembentukan hukum islam sampai akhir zaman. Segala permasalahan hukum agama merujuk kepada Al-Kitab tersebut atau kepada jiwa kandungannya b. As-Sunnah As-Sunnah adalah ucapan, perbuatan, atau pengakuan rasulallah SAW. berfungsi sebagai penjelasan Al-Kitab, merinci yang masih bersifat umum. Siapa yang tidak mau berpegang kepada As-Sunnah tersebut berarti orang tersebut tidak mengakui kebenaran risalah Allah yang beliau sampaikan kepada ummatnya. c. Aqwalus Shahabah Para sahabat adalah termasuk orang yang membantu menyampaikan risalah Allah, mereka tahu sebab-sebab turunnya ayat-ayat Al-Qur'an (walaupun tidak semuanya), mereka lama bergaul dengan Rasulallah sehingga mereka tahu bagaimana kaitan hadits Nabi dengan ayat-ayat Al-Qur'an yang diturunkan itu. Perkataan sahabat memperoleh posisi yang kuat dalam pandangan Abu Hanifah, karena menurutnya mereka adalah orang-orang yang membawa ajaran Rasul sesudah generasinya, dengan demikian pengetahuan dan pernyataan keagamaan mereka lebih dekat pada kebenaran tersebut. d. Al-Qiyas Qiyas adalah menyamakan suatu hokum dari peristiwa yang tidak memiliki nash hukum dengan peristiwa yang sudah memiliki nash hukum. Abu Hanifah berpegang kepada Qiyas, apabila ternyata dalam al-qur'an, sunnah atau perkataan sahabat tidak belau temukan, beliau menghubungkan sesuatu yang belum ada hukumnya kepada nash yang ada setelah memperhatika illat yang sama antara keduanya. e. Al-Isthsan Al-Istihsan sebenarnya merupakan pengembangan dari Al-Qiyas. Penggunaan Ar-Ra'yu lebih menonjol lagi. Ihtihsan menurut bahasa berarti menganggap baik atau mencari yang baik, menurut istilah ulama Ushul Fiqh adalah meninggalkan ketentuan Qiyas yang jelas illatnya untuk mengamalna Qiyas yang samar illatnya, atau meninggalkan hukum yang bersifat pengecualian karena ada dalil yang memperkuatnya. f. Urf Pendirian beliau adalah mengambil yang sudah diyakini dan dipercayai dan lari dari keburukan serta memperhatikan muamalah-muamalah manusia dan apa yang mendatangkan maslahat bagi mereka. Beliau melakukan segala sesuatu bila tidak ditemukan dalam Al-Qur'an, Sunnah, Ijma' atau Qiyas, dan apabila tidak baik dilakukannya, apabila tidak dapat dilakukan Istihsan, beliau kembail kepada Urf manusia. Urf ialah kebiasaan manusia dan menjadi tradisi, dalam perkataan, yaitu perkataan walad yang biasa diartikan untuk anak laki-laki, bukan untuk anak perempuan, contoh kebiasaan dalam perbuatan adalah jual beli dengan jalan serah terima, tanpa menggunakan ijab kabul. 2. Pendirian Imam Hanafi Tentang Taqlid Sebagai seorang Ulama Imam Hanafi tidak membenarkan seorang bertaqlid kepada beliau tanpa mengetahui dasar atau dalil yang beliau pergunakan. Begitu juga kepada ulama-ulama lainnya. Beliau meginginkan supaya aeorang bersikap kritis dalam menerima fatwa dan ajaran agama, sehingga tidak ada seorang ulama yang dikultuskan.

Referensi:
Hasbi Ash-Shiddiqey, Pokok-Pokok Ilmu Dirayah Hadist, Bulan Bintang, Jakarta 1981, Hal 400 M.Ali Hasan, Perbandingan Madzhab, Rajawali, Jakarta, 1998, Hal 188, Muhammad Khudhari Bik, Tarikh Al Tasyri' Al Islamy, Maktabah Ahmad Bin Sa'id Bin Nubhan Wa Awladuhu, Surabaya, Tt, Hal 232 Abdul Wahab Khalaf, Ilmu Uhsul Fiqih, Putaka Amani, Jakarta, 2003, Hal 39


fixwapwaplog
Display Pagerank