MENU-ARTIKEL
IMAM AHMAD BIN HAMBAL (164H / 780M – 641H / 855M)
Al-Imam Abu Abdillah Ahmad ibn Hambal seorang yang amat gemar menuntut ilmu dan pernah beliau melawat beberapa negeri, beliau juga pernah belajar pada imam Syafi'i, Imam Syafi'i pernah berkata aku pergi dari Bagdad tidak ada seorang yang lebih mulia, berilmu dan ahli fiqih menjadi penggantiku dari pada Ahmad Bin Hambal.
1. Dasar-Dasar Hukum Imam Hambali
Imam hambali dalam menetapkan suatu hukum adalah dengan berlandaskan kepada dasar-dasar berikut:
a. Nash Al-Qur'an dan Hadist, yakni apabila beliau mendapatkan nash, maka beliau tidak lagi memperhatikan dalil-dalil yang lain dan tidak memperhatikan pendapat-pendapat sahabat yang menyalahinya
b. Fatwa Sahaby, yaitu ketika beliau tidak memperoleh nash dan beliau mendapati sesuatu pendapat yang tidak diketehuinya bahwa hal itu ada yang menentangnya, maka beliau berpegang pada pendapat ini.
c. Pendapat sebagian sahabat, yaitu apabila terdapat beberapa pendapat dalam suatu masalah, maka beliau mengambil mana yang lebih dekat kepada Al-Qur'an dan Sunnah.
d. Hadist Mursal (hadist yang diriwayatkan oleh tabiin nabi SAW) atau hadist Da'if (hadist yang tidak bersambung sanadnya atau dalam sanadnya itu ada orang yang berijtihad) , jika tidak berlawanan dengan sesuatu atsar atau dengan pendapat sahabat.
e. Qiyas, baru dipakai apabila beliau tidak memperoleh ketentuan hukumnya pada sumber yang disebutkan diatas.
2. Cara Imam Hambali Dalam Memberi Fatwa
Imam hambali dalam memberikan fatwa tentang urusan agama dan hukum-hukum yang berkenaan dengan agama sangat berhati-hati, baik dalam menjawab atau menjelaskan hukumnya. Bahkan seringkali beliau memberikan jawaban:"saya tidak tahu atau belum tahu atau belum saya periksa".
Karena masalah hukum yang bersangkut paut dengan agama itu, tidak mudah dan sangat sulit maka Imam Hambali memberi fatwa atau jawaban kepada orang lain tentang masalah-masalah keagamaan, hendaklah mengerti tentang Al-Qur'an, As-Sunnah, mengerti akan perkataan-perkataaan orang terdahulu, singkatnya bahwa orang yang akan member fatwa itu hendaklah orang yang mempunyai persedaan alat-alat lengkap dan pengertia yang cukup.
Untuk mewujudkan kemaslahatan yang banyak, mujtahid mencoba mencairkan kaitannya kepada yang lain walaupun kaitan tersebut tidak kuat dalam Ushul Fiqh disebut Istthsan.
Bila terdapat suatu kejadian maslahat yang bersifat umm dan tidak ada dalil nas yang berbenturan dengannya maka para mujtahid melahirkan hukum dengan cara Maslahat Mursalah.